PENTINGNYA PERENCANAAN DALAM PEMBELAJARAN

Published Desember 10, 2011 by fujitresnarahayu

Pembelajaraan adalah  proses yang diatur menurut langkah-langkah tertentu (sistematis) melibatkan berbagai unsur atau komponen pembelajaran secara terpadu (sistemik). Pengaturan yang dilakukan secara sistematis dan sistemik dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara logis, efektif dan efisien. Pengaturan ini secara praktis dibuat dalam bentuk perencanaan mengajak.

Perencanaan pembelajaran  adalah suatu proyeksi  mengenai  kegiatan atau proses yang akan dilakukan selama pembelajaran  berlangsung.  Dalam Peraturan Peraturan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan , bahwa perencanaan  pembelajaran tersebut meliputi dua jenis yaitu : pertama Silabus Pembelajaran dan kedua Rencana Pelaksaaan Pembelajaran” (BAB IV Pasal 20).

Perencanaan pembelajaran (intuctional desain), memperkirakan dan memproyeksikan tindakan atau aktivitas yang akan dilakukan pada saat pembelajaran. mengingat perencanaan sebagai proyeksi kegiatan, maka kedudukannya dalam sistem pembelajaran menjadi amat strategis. Anda dapat membayangkan apabila kegiatan pembelajaran sebagai upaya untuk merubah perilaku siswa, dan tidak melalui perencanaan yang matang, maka dapat dibayangkan akan seperti apa proses pembelajaran itu. Dampaknya terhadap proses dan hasil pembelajaran secara khusus dan penyidikan pada umumnya sulit diprediksi. Andai kita boleh membandingkan, dilihat dari resiko atau dampak yang dapat ditimbulkan, nampaknya lebih berbahaya pembelajaran yang tidak direncanakan dari pada membuat satu bangunan rumah. Keduanya beresiko, tapi karena pembelajaran langsung berhubungan dengan “pencetakan manusia”, kerugian akan lebih patal dibandingkan dengan bentuk bangunan yang dihasilkan jika tanpa perencanaan. Disinilah letak atau esensi pentingnya perencanaan pembelajaran, terutama dilihat dari beberapa segi sebagai berikut:

  1. a.        Pertimbangan Praktis

1)             Perencanaan sebagai pedoman atau panduan

Dengan perencanaan yang telah dibuat, maka guru ketika melaksanakan proses pembelajaran secara umum akan mengikuti langkah-langkah atau prosedur  dan aktivitas pembelajaran disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian pada saat mengajar guru selalu menggunakan  perencanaan sebagai pedoman “ Intuctional design describe procedures for intructional  implementation ” (Reigeluth. 1983 : 10).

Apabila setiap guru ketika mengajar selalu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan secara disiplin patuh terhadap perencanaan yang telah dibuat ketika mengajarnya,  maka tidak akan terjadi adanya kesenjangan antara pelaksanakan pembelajaran dengan kurikulum yang ada di atasnya, seperti dengan silabus pembelajaran dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan lebih jauh lagi dengan sasaran tujuan pendidikan nasional.

2)             Perencanaan menggambarkan hasil

Perencanaan selain merupakan gambaran proyeksi kegiatan yang akan dilakukan, juga melalui fungsi praktis perencanaan pembelajaran adalah menggambarkan hasil yang akan atau harus dicapai dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Perencanaan adalah proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely, 1979). Oleh karena  itu untuk merumuskan tujuan pembelajaran sebagai bagian dari sistem perencanaan pembelajaran, indikator atau tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku operasional yang terukur. Melalui rumusan tujuan/indikator  yang operasional sasaran hasil pembelajaran yang akan  atau harus dicapai siswa sudah tergambarkan secara jelas. Itulah salah satu ciri dari fungsi perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil.

3)             Perencanaan sebagai alat kontrol

Sasaran utama kegiatan pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran , indikator tercapainya tujuan  pembelajaran adalah “perubahan perilaku“ pada setiap siswa. Perubahan perilaku baik dalam bentuk pengetahuan, sikap maupun keterampilan adalah perubahan yang disengaja atau direncanakan. Oleh karena itu setiap kegiatan pembelajaran baik dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas selalau harus dalam kegiatan terencana dan terkontrol. Reigeluth menyatakan “Intructional design describe procedure for intructional management”.

Management dalam kata lain adalah pengelolaan, salah asatu unsur dari pengelolaan itu pengawasan atau kontrol. Maksud dari kegiatan pengawasan atau kontrol adalah untuk mengetahui pelaksanaan atau kegiatan yang dilakukan apakah berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Dari pengontrolan ini juga dapat diketahui apakah berbagai sumber kegiatan dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Dengan adanya perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai alat kontrol, maka apabila terjadi adanya kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan skenario pembelajaran akan segera diketahui dan pada saat itu pula pembelajaran dikembalikan kepada rencana yang telah disusun. Dengan demikian peluang terjadinya in-efisiensi dan in-efektivitas dalam proses dan hasil pembelajaran akan bisa dikurangi. Oleh karena itu setiap guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran jangan abaikan perencanaan pembelajaran, agar kegiatan kita dapat terkontrol.

4)             Perencanaan sebagai alat evaluasi

Pada saat merumuskan tujuan atau indikator pembelajaran yang menjadi salah satu unsur dalam perencanaan pembelajaran, maka gambaran hasil yang akan atau harus dicapai sudah tergambarkan dengan jelas. Artinya perencanaan pembelajaran menggambarkan hasil. Sejauhmana sasaran pembelajaran yaitu tujuan atau indikator pembelajaran telah tercapai atau tidak. Diketahui melalui kegiatan evaluasi. Dengan demikian maka fungsi berikutnya dari perencanaan pembelajaran   adalah sebagai alat evaluasi “intuctional design identifies and remedies weaknesses as a part of instructional evaluation” (Regeluth, 1983).

Evaluasi dapat memberikan data atau hasil yang akurat jika tujuan atau indikator pembelajaran dirumuskan secara akurat pula. Oleh kerena itu dalam panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dijelaskan “indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik  peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur atau dapat diobservasi”. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian (evaluasi).

  1. b.        Hubungan Kurikulum, Perencanaan dan pembelajaran

Perencanaan pembelajaran adalah pedoman operasional pelaksanaan pembelajaran, yang secara teknis dalam proses pembuatannya selalu merujuk pada kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dari kurikulum. Perencanaan pembelajaran yang telah dibuat kemudian diimplentasikan dalam kegiatan belajar mengajar, dan hasil dari pembelajaran tersebut adalah dalam bentuk perubahan perilaku pada siswa (out-put).  Dengan hubungan antar kurikulum, perencanaan pembelajaran serta hasil yang dicapai dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:

KURIKULUM

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN

HASIL

Dalam pengertian tertentu kurikulum juga diartikan suatu program atau perencanaan pembelajaran. jawabannya tentu saja berbeda, kalau kurikulum merupakan program yang bersifat lebih umum dan luas menyangkut dengan seluruh aktivitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang bersangkutan, adapun perencanaan pembelajaran adalah program kegiatan yang lebih khusus menyangkut dengan kegiatan belajar.

Dalam sistem pembelajaran, keempat aspek di atas yakni : kurikulum, perencanaan pembelajaran, pembelajaran dan hasil pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang utuh dan saling mempengaruhi. Dalam bagan di atas tanda panah lurus dari kurikulum sampai ke hasil menandakan bahwa kurikulum sebagai pedoman atau program umum pendidikan sekolah, kemudian dijabarkan kedalam perencanaan pembelajaran, kemudian diimplementasikan kedalam bentuk pembelajaran sehingga akan keluarlah hasil yang dicapai. Adapun tanda garis terputus-putus dari hasil yang terhubung dengan aspek-aspek yang lain menggambarkan hubungan timbal balik, yaitu kualitas atau kuantitas hasil pembelajaran yang telah dicapai sangat ditentukan oleh kualitas pembelajaran, kualitas perencanaan pembelajaran dan bahkan tergantung pada kurikulum yang diberlakukan.

  1. c.         Prinsip Penyusunan Perencanaan Pembelajaran (intructional design)

Agar perencanaan pembelajaran yang dibuat dapat dijadikan pedoman yang jelas dan akurat, maka dalam pembuatannya harus memperhatikan dan mengikuti beberapa prinsip antara lain seperti berikut ini :

1)             Sesuai dengan kurikulum yang berlaku

Setiap pembuatan perencanaan pembelajaran harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Kurikulum merupakan program umum bagi penyelenggaraan setiap satuan pendidikan. Dalam kurikulum sudah dirumuskan tujuan lembaga (kompetensi lulusan) dan ruang lingkup isi kurikulum (standar isi). Oleh karena itu perencanaan pembelajaran adalah merupakan penjabaran operasional dari tujuan lembaga dan standar isi kurikulum. Dengan demikian apabila perencanaan dibuat dengan didasarkan pada kurikulum yang berlaku, maka perencanaan tersebut dapat berfungsi untuk merealisasikan pencapaian kompetensi lulusan dan standar isi dari kurikulum yang ditetapkan.

 

2)      Sesuai dengan kondisi  yang ada

Perencanaan pembelajaran selain harus memperhatikan tuntutan kurikulum nasional yang ditetapkan juga perencanaan harus mengakomodasi atau memperhatikan situasi dan kondisi yang ada dan berkembang disekitar sekolah berada. Oleh karena itu setiap guru pada saat menjabarkan kurikulum ke dalam bentuk perencanaan pembelajaran, seperti dalam bentuk silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran, harus memperhatikan dan menjadikan situasi dan kondisi seperti : sumber daya alam, harapan masyarakat, sumber daya manusia, fasilitas, peluang maupun tantangan dan sumber-sumber lain yang tersedia hendaknya dapat dijadikan sumber masukan untuk dikembangkan dalam merumuskan perencanaan pembelajaran. Dengan demikian apabila perencanaan telah memenuhi kesesuaian dengan lingkungan sekitar, maka pembelajaran yang dilaksanakan akan dapat merespon harapan-harapan praktis yang menjadi dambaan pihak orang tua dan masyarakat pada umumnya.

 

3)               Sesuai dengan model pembelajaran yang akan dilaksanakan

Bentuk pembelajaran sangat bervariasi dan memiliki banyak model atau pendekatan. Model pembelajaran heuristik tentu saja dalam prosesnya berbeda jika dibandingkan dengan model ekspositorik. Model atau pendekatan heuristik memiliki ciri utama yaitu menuntut aktivitas yang tinggi dari siswa dalam proses belajarnya. Posisi siswa dalam pendekatan heuristik tidak hanya sebagai penerima pembelajaran yang disampaikan oleh guru, akan tetapi aktif merespon dan mencari serta memecahkan permasalahan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Adapun model atau pendekatan ekposiotorik, memiliki ciri utama yaitu aktivitas guru masih mendominasi.  Guru mengendalikan berbagai aktivitas, dan siswa siap mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru.  Dengan demikian setiap model pembelajaran yang dikembangkan akan menuntut perencanaan atau scenario pembelajaran yang berbeda-beda disesuaikan dengan karakteristik model pembelajaran itu sendiri.

 

4)      Memperhitungkan waktu yang tersedia

Setiap pembelajaran dalam kondisi yang standar di setiap sekolah selalu dibatasi oleh waktu. Tentu saja waktu yang tersedia untuk setiap pertemuan akan memberikan batas-batas tertentu terhadap setiap komponen pembelajaran. Mosalnya dengan waktu yang tersedia idealnya berapa banyak materi yang harus disajikan, metode dan media apa yang bida digunakan, sumber dan jenis evaluasi model yang cocok digunakan sesuai dengan waktu yang tersedia.

Dengan demikian pembuatan perencanaan pembelajaran dianggap penting untuk mempertimbangkan waktu yang tersedia.  Meskipun demikian tentu saja tidak salah dan bahkan sangat memungkinkan melalui perencanaan itu akan menentukan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran yang akan dilakukan.

 

5)             Sistematis dan sistemik

Perencanaan pembelajaran harus dibuat secara tersusun (sistematis) dan mencakup keseluruhan dari setiap komponen perencanaan pembelajaran itu sendiri (sistemik). Sistematis dalam pembuatan perencanaan pembelajaran, yaitu perumusan atau pengembangan setiap komponen harus mengikuti urutan yang logis, misalnya sebelum menetapkan materi apa yang harus dipelajari oleh siswa, tentu saja terlebih yang harus ditetapkan adalah tujuan yang harus dicapai. Setelah tujuan jelas baru ditetapkan  materi, kemudian metode dan media, sumber-sumber, skenario pembelajaran dan terakhir baru ditetapkan evaluasi. Sedangkan sistemik yaitu seluruh komponen pokok pembelajaran  melipiti : tujuan, isi, metode dan media serta evaluasi harus saling terkait, mempengaruhi dan menentukan antar setiap komponen tersebut.

6)             Fleksibel

Perencanaan pembelajaran harus dibuat dengan memperhatikan prinsip fleksibilitas, yaitu perencanaan harus memberi alternatif atau kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang. Perencanaan sesuai dengan fungsinya yaitu merupakan proyeksi atau perkiraan. Dalam pelaksanaan karena mungkin terjadi sesuatu yang diluar perkiraan (perencanaan ) yang dibuat, maka pembelajaran harus tetap berjalan, yaitu dengan melakukan penyesuaian terhadap perencanaan yang telah dibuat sebelumnya untuk kemudian dilakukan modifikasi dan sisuaikan dengan kondisi yang berkembang.

 

4 comments on “PENTINGNYA PERENCANAAN DALAM PEMBELAJARAN

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: